Minggu, 19 Februari 2012

Pengalaman di Samarinda Hujan dan Berawan

0

Hujan beberapa akhir ini terjadi di kota Samarinda. Foto yang ku ambil saat berteduh di dekat kantor Gubernur (05/02/12). Saat itu berteduh dengan mama mengenakan jas hujan seadanya. Tidak sampai 15 menit, hujan yang di temani kilat petir dan guntur itu membuat ruas jalan mulai banjir semata kaki. Sudah mengenakan gaun di atas lutut dan hujan deras itu membuatku agak risih karena dingin dan basah.
      Beberapa hari sebelumnya (01/02/12), saat melintasi Jembatan Mahakam, aku juga mengambil gambar dengan ponsel Samsung Champ milikku. Langit berawan dan jembatan nampak sepi. Hanya Taksi yang melintas di depanku. Cuaca di Kota Samarinda tidak bisa di tebak. Kadang cerah lalu hujan atau mendung terus cerah. Membingungkan. Perubahan cuaca ini membuatku harus lebih jaga kondisi kesehatan. Jadi ingat kata Pak Djuhadi -Waka SMKN7Samarinda- yang berpesan
"Jaga kesehatan, musim pancaroba. Persiapkan untuk Ujian Nasional"
Perkataannya sempat teringat dalam ingatanku. Yah, aku berterimakasih secara tidak langsung dengan nasihatnya.

Senin, 06 Februari 2012

Melepas Kepergian Teman di SMK Negeri 7 Samarinda

0


Beginilah SMK Negeri 7 Samarinda...
teman-temannya termasuk gifo.. alias gila foto..
ini foto yg di ambil tanggal 21/07/11 --> pas mau wudhu'
fotonya melepas Aprin Ke Bogor untuk lomba di DPR RI.. hahaha..
sayangnya karena aku yang moto aku ndada.. ~__~'

Ada Aprin, Udha, Satriyo, Fany, dan Wiwid... ^^


 Aduh, Satriyo malu... hehehe...





Jumpa Fans.. hahaha... akhirnya ada Sunthi datang....





Maaf, ya... editannya jelek.. karena saya kurang bisa jadi anak multimedia...
ngambil fotonya juga jelek..

tapi disinilah kebersamaan kami... ^^
biar beda jurusan atau kelas kami tetap bersama...

Sabtu, 04 Februari 2012

Penyebrangan Tenggarong

0

Semenjak runtuhnya Jembatan Golden Gate Tenggarong City, lalu lintas Tenggarong kota dan seberang di lakukan dengan Feri. Nah, saya sempat menyebrang dengan Feri. Melintasi Mahakam River yang arusnya deras dan dalamnya sungai membuatku takut -karena gak bisa berenang- Liha aja tangan abah yang megang stang motor -lihat gambar- tapi, perhatikan ada bapak yang menunggu entah memandang kemana -maaf ya pak saya foto diam-diam- dan feri yang saya gunakan merupakan feri lokal.

Hewan apa ini?

0

-Tidak teridentifikasi-

Saat mengambil jemuran saya gak sengaja ketemu hewan ini. Awalnya saya kira kupu-kupu tapi saat saya dekatkan penglihatan saya ini bukan kupu-kupu. Lalu hewan apakah ini? 





Saya pun tak tahu.. =,=

Jika ada yang tahu beritahu saya yah...

Rekomendasi Rumah Makan di Kota Tenggarong

0

-Nasi Campur-

     Tenggarong, Kota Raja. Banyak berbagai tempat makan yang bisa kita jumpai di sana. Ada tempat makan yang saya rekomendasikan karena makanannya enak dan harganya terjangkau. Nasi campur yang enak, dan bukan nasi campur biasa. Ada tambahan kerupuk, sambal dan acar mentimun yang sedap sekali untuk di lahap. Lauknya pun beragam ada tambahan telur, ayam kare, sayur dan mie goreng. Minumnya teh es yang nikmat dengan harga terjangkau. Lokasinya di sekitaran daerah Timbau. Kalau tidak salah nama tempatnya "Martabak Kare" karena di sana juga menjual martabak dengan kare ayam dan daging. Penjualnya pun sangat ramah sekali. ( ^_^ )

Harga 
Nasi campur : Rp 12.000
Es Teh         : Rp  5.000
Lokasi         : Rumah Makan Martabak Kare, Daerah Timbau, Tenggarong

Jumat, 03 Februari 2012

Selasa, 31 Januari 2012

Potret Dinamika Kehidupan Samarinda

0


         Hari ini (31/1/12) aku pulang sekolah seperti biasa. Namun, ada beberapa potret dinamika kehidupan terjadi di Kota Samarinda yang ku cintai. Hampir setiap lampu merah, aku menemui anak-anak jalanan, pengemis dan pengamen. Tidak pandang usia mereka seperti "Jamur yang tumbuh di musim hujan" di kotaku ini. Entah mengapa aku agak miris bercampur risih. Miris karena mengapa harus seperti itu kerjanya? Buat apa merantau jauh-jauh jika kerjanya seperti itu? dan Risih karena tingkat kejahatan jadi meningkat.
Berbeda dari beberapa tahun yang lalu, Samarinda masih sunyi dari kendaraan bermotor dan hunian mewah hingga kumuh. Kawasan Samarinda Seberang saja dekat SMPku dulu SMP Negeri 3 Samarinda masih asri. PDAM dekat sana saja masih mengeluarkan air terjun kecil di gunungnya. Sekarang sangat berbeda, pembangunan mulai merajalela. Kawasan yang dulu tidak banjir kini hujan setengah jam saja bisa membuat daerah itu terendam. Pinggiran jalan mulai di hiasi permukiman liar, jalan-jalan rusak berat akibat truk, terutama truk peti kemas dan tambang.

        Miris melihat anak-anak jalanan seperti terbuang dari kehidupan layak dari orang tuanya. Mereka seakan mesin pencari -penghasil uang- sempat cerita abah saat ada anak jalanan yang ikut menyebrang jembatan Mahakam cerita bahwa ia tidak boleh pulang sebelum koran yang ia bawa habis terjual. Mana mungkin ada yang mau beli koran hari ini malam-malam? Sungguh ironi di kota yang kaya akan tambang dan mengasilkan lubang-lubang -akibat pertambangan-.

        Cerita lainnya saat aku kelas 2 SMK, pagi itu di persimpangan tiga lampu merah Antasari ada kejadian tak terduga. Seorang pengemis turun dari mobil yang bisa di bilang mewah -kalau gak Xenia ya Avanza- aku dan abah yang melihat hal itu langsung tercengang. Ada pula cerita pengemis cacat yang nongkrong di warung -Cerita dari Teman abah, Om Ansah (Jalan Merdeka)- katanya pengemis itu membayarkan makan semua orang yang ada di warung itu. Bahkan Handphonenya BB (BlackBerry) sebanyak 2 Unit, menurut penuturan pengemis itu pendapatannya bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 800.000 setiap harinya. Fantastis sekali!!! Pernah juga melihat secara langsung di daerah pasar Pagi -saat itu kebakaran di salah satu Dealer dekat Bank BRI dan Kantor Pos- seorang pengemis buta menerima panggilan dan aku, kakakku dan mamaku terkejut melihat pengemis buta itu mendapat informasi dari temannya tentang peristiwa kebakaran dengan handphone Nokia yang mahal pada saat itu -mungkin kisaran 1juta ke atas- . Pengemis kaya dari pada karyawan yang kerja di toko, menurutku seperti itu.

         Aku juga punya tetangga seorang pemulung -pencari sampah- yang menurutku hidupnya makmur. Beliau memiliki seorang istri dan 3 orang anak. Memiliki kendaraan roda 2 -Vario- jadi jangan sepelekan kerjaan mereka. Potret dinamika kehidupan Samarinda mungkin akan terus berkembang dari tahun ke tahun. Aku akan berusaha mencoba mengiikuti alur perubahan sosial yang terus terjadi di Samarinda tercinta yang mungkin akan tenggelam karena penggalian tambang. Aku berharap kinerja pemerintah harus optimal untuk menyelamatkan kota ini dari berbagai masalah kehidupan.